Mengawali babak baru dalam kariernya, aktor ternama Reza Rahadian memilih menyutradarai film panjang pertamanya berjudul Pangku, yang tayang di bioskop mulai 6 November 2025. Lebih dari sekadar proyek artistik, Pangku lahir dari refleksi personal dan riset mendalam yang menyoroti realitas perempuan di pesisir Pantura, sebuah wilayah yang jarang mendapat perhatian dalam perfilman nasional.
Kalau kamu termasuk yang sudah menantikan Pangku, ulasan berikut bisa jadi pemanasan sebelum menyaksikan bagaimana Reza Rahadian menerjemahkan realitas ke dalam karya perdananya di kursi sutradara.
1. Latar budaya yang jarang diangkat

Pangku mengambil latar wilayah pesisir utara Jawa atau Pantura, dan lebih spesifik lagi tradisi warung kopi “kopi pangku” sebagai ruang cerita utama. Tradisi kopi pangku sendiri merujuk pada warung tempat para pembeli menikmati kopi sambil ditemani perempuan yang duduk di pangkuannya. Fenomena sosial ini menyimpan lapisan makna tentang relasi ekonomi dan gender yang kompleks. Dengan memilih latar ini, Reza Rahadian memberi ruang pada kisah yang jarang dijangkau oleh industri film mainstream.
Metode risetnya pun cukup intens. Tim produksi tinggal beberapa waktu di Pantura untuk berdialog dengan perempuan-perempuan yang bekerja di warung kopi pangku sebagai bagian dari penyusunan naskah. Langkah ini memperkaya narasi dengan data lapangan yang autentik sehingga warna sinematiknya bukan sekadar hiasan, melainkan cermin realitas.
2. Cerita perempuan dan ketahanan di tengah ketidakpilihan

Pangku mengisahkan tokoh utama bernama Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan) yang setelah melahirkan dan dalam kondisi hidup yang sulit, akhirnya bekerja sebagai pelayan di warung kopi pangku. Kisah ini menggambarkan pilihan yang tidak ideal namun dijalani demi tanggung jawab, bukan untuk mencari simpati. Dan melalui karakter ini, film menyentuh aspek keberdayaan perempuan yang menjalani hidup tanpa banyak pilihan.
Selain itu, karakter Maya (diperankan oleh Christine Hakim) hadir sebagai figur ibu asuh yang mengajak Sartika memasuki dunia pangku. Hubungan antara dua perempuan ini menyiratkan solidaritas lintas generasi dalam kondisi yang keras sekaligus penuh harapan. Dengan gaya cerita yang tidak memuja-mujakan korban, Pangku justru mengajak penonton memahami bahwa bertahan hidup itu bukan sekadar reaksi, melainkan tindakan.
3. Debut sutradara Reza Rahadian: dari aktor ke pengarah

Selepas puluhan film sebagai aktor, Reza Rahadian kini memilih untuk melangkah ke belakang kamera sebagai sutradara film panjang. Pangku menjadi titik awal yang penting dalam evolusi kariernya. Ia juga turut menulis skenario bersama Felix K. Nesi, yang menunjukkan keterlibatan kreatif yang menyeluruh.
4. Kolaborasi pemeran lintas generasi

5. Kekuatan realitas dan pendekatan emosional

Pangku menggunakan pendekatan yang nyata dalam menampilkan kondisi hidup tokohnya. Adegan-adegan sederhana namun penuh makna seperti ketika ibu memeluk anaknya dalam kelelahan bukanlah dramatisasi kosong, melainkan penjelmaan pengalaman yang sehari-hari. Riset di lapangan dan pendekatan aktor-sutradara terhadap realitas sosial di film ini memberi refleksi terhadap kondisi masyarakat yang sering terlupakan.
6. Pencapaian internasional yang mengawali karier baru

Sebelum tayang di bioskop domestik, Pangku telah lebih dulu dipilih sebagai bagian dari program Vision di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, sebuah momen penting sebagai world premiere film ini. Pilihan ini menjadi pengakuan bahwa film dengan akar lokal pun memiliki resonansi global.
Melangkah ke panggung internasional membuka peluang agar kisah seperti Pangku dapat diterima oleh audiens luas dan tidak terbatas hanya oleh konteks lokal. Hal ini juga menunjukkan bahwa perfilman Indonesia semakin berani mengangkat tema-tema kecil namun bermakna, sekaligus memperoleh ruang di berbagai festival bergengsi.
